Cerita Sex Pertama Kali Dengan Mama

Cerita Dewasa Terbaru 2017 - Cerita Sex Terbaru - Cerita Panas Terbaru - Cerita Mesum Terbaru - Foto Bugil Terbaru - Foto Cewek Hot Terbaru - Foto Mesum Terbaru - Cerita Sex Pertama Kali Dengan Mama - dan Seputar Dewasa Terbaru 2017

Cerita Sex Pertama Kali Dengan Mama
Cerita Sex Pertama Kali Dengan Mama

Mama saya berusia 48 tahun ketika peristiwa itu terjadi. Mama telah menjanda karena Papa telah meninggal dunia. Mama menurut kata orang cantik dalam usianya yang setengah baya. Dari semua sex appealnya yang paling menonjol adalah rambutnya yang terurai panjang sampai dipantatnya yang montok. Sebagai anak tunggal, saya merupakan tumpuan harapan Mama walaupun prestasi saya sebagai mahasiswa biasa saja. Malam itu saya pulang mabuk berat karena hobby saya memang minum. Ini yang bikin Mama sering sedih, tetapi saya tetap tidak berhenti karena terpengaruh teman.

Saya masuk kamar dan terus bermaksud tidur. Tiba-tiba Mama masuk kamar saya sambil menyisir rambutnya yang panjang itu. Rupanya Mama mendengar suara saya menutup pintu depan. Mama bertanya apakah saya baik-baik saja, karena mengapa langsung masuk kamar tanpa berkata apa-apa kepada Mama. Karena saya diam saja, Mama kemudian duduk di pinggir tempat tidur saya, tangannya yang kanan diletakkan disamping pinggang kanan saya, duduknya di sebelah kiri saya, jadi Mama seolah-olah berada diatas badan saya. Rambutnya tergerai diatas badan saya, dan tangan kirinya mengusap kepala saya setelah meletakkan sisir di meja kecil disamping tempat tidur saya.

Saya memandang Mama di keremangan kamar saya yang disinari lampu tidur di meja kecil. Saya terkesima soalnya Mama dandanannya seronok dengan make up yang tebal, bibirnya yang merah bergincu. Ternyata Mama baru pulang dari undangan bersama tetangga sebelah ke pesta perkawinan anak kenalannya. Saya bilang Mama cantik sekali, dan Mama hanya tersenyum sambil tetap mengusap rambut saya. Tanpa sadar saya pegang tangannya yang kanan dan mengusapnya. Rambut Mama yang lebat itu memancarkan bau harum hair spray yang membangkitkan birahi saya. Mama malam itu dimata saya seperti geisha yang siap melayani pelanggannya.

Karena kami berdua diam, saya mulai berani mengelus rambut hitam lebat yang tergerai diatas dada saya. Penis saya mulai tegang meraba rambutnya yang menggerai tebal itu. Tangan kiri saya pelan-pelan saya angkat mengelus pipinya yang berbedak tebal karena make up-nya. Uh saya tak tahan ingin mencumbu perempuan ini dihadapan saya, seperti cerita Sangkuriang yang jatuh birahi dengan ibu kandungnya. Mulut saya terbuka dan sedikit menganga menahan birahi saya. Entah mengapa Mama tiba-tiba menunduk dan mencium kening saya. Saya tak tahan lagi dan membalas menciumnya tetapi dibibirnya sambil tangan kiri saya meraih lehernya. Mama agak berontak tetapi kemudian hanyut dengan kelembutan saya menciumnya. Mama saya rebahan di dada saya dan kami mulai berciuman seperti sepasang kekasih,lembut tanpa ada keterpaksaan.

Mama akhirnya saya tindih dengan tetap mencium bibirnya. Rambutnya terbusai-busai diatas tempat tidur saya. Saya mulai melepas celana saya dan baju saya, yang karena susah membukanya akhirnya beberapa kancingnya copot. Saya akhirnya telanjang menindih Mama saya yang tangan kiri dan kanannya erat mencengkeram sprei tempat tidur saya. Matanya agak terpejam dan mukanya menengok ke kiri atas sewaktu saya menjilat dan menggigit leher kanannya. Susunya yang mulai agak kendor itu saya remas lembut, dan memang tetek Mama cukup besar. Mama melenguh seperti orang kesakitan, pinggulnya menggisar-gisar selangkang saya.

Sambil mengisapt payudaranya,saya turunkan celana dalam Mama. Mama ditengah nafsunya hanya bisa berbisik pelan melarang saya, tetapi sepertinya merestui saya untuk mencopot celana dalamnya. Saya meraba vaginanya dan mengelus klitorisnyanya, yang ternyata sudah mulai berair. Saya akhirnya minta ijin Mama untuk memasukkan penis saya ke vaginanya. Mama hanya menggumam tidak jelas ketika ujung penis saya sudah berada di mulut vaginanya yang agak basah. Tanpa tertahan lagi Mama menangis tersedak-sedak ketika saya mulai menggenjotnya, anak kandungnya yang kurang ajar ini. Baru kali inilah saya meraskan jepitan vagina wanita, yang juga kebetulan ibu kandung saya, setelah setiap kali saya hanya mampu beronani membayangkan ngentot wanita.

Saya memang kadang kadang membayangkan ibu saya, Mama saya yang seksi, bahkan sampai mimpi basah. Sekarang impian telah menjadi kenyataan. Persetubuhan dengan Mama akhirnya hampir mencapai puncaknya dan saya menggenggam erat rambut dibelakang kepalanya sampai Mama terdongak kepalanya ke belakang. Sambil dengan gemas saya gigit lehernya, sperma saya memancar deras ke vaginanya. Oh, saya telah menyetubuhi pertama kali wanita cantik yang juga Mama saya tercinta. Malam itu Mama saya adalah kekasih saya, lonte saya dan sekaligus guru saya. Saya berbisik,

"Maahh… nanti minta lagi ya.." Mama hanya senyum dikulum sambil memeluk saya.



Cerita Dewasa Sex Perawan, Cerita Dewasa Sex SMA, Cerita Dewasa Sex Gangbang, Cerita Dewasa Sex SPG, Cerita Dewasa Sex ABG,Cerita Dewasa Sex Model, Cerita Dewasa Sex Suster, Cerita Dewasa Sex Mahasiswa, Cerita Dewasa Sex Mahasiswi, Cerita Dewasa Sex Threesome, Cerita Dewasa Sex Pembantu, Cerita Dewasa Sex Tante Girang, Cerita Dewasa Sex Salon++, Cerita Dewasa Sex Lesbi, Cerita Dewasa Sex Gay, Foto Hot ABG Terbaru, Foto Hot Model Terbaru, Foto Hot Mahasiswi Terbaru, Foto Hot Tante Terbaru, Cerita Sex Terbaru 2017, Cerita Mesum terbaru 2017, Cerita Dewasa Terbaru 2017, Dan Lain-lain.

Cerita Sex Kenekatan Sepupu Istriku

Cerita Dewasa Terbaru 2017 - Cerita Sex Terbaru - Cerita Panas Terbaru - Cerita Mesum Terbaru - Foto Bugil Terbaru - Foto Cewek Hot Terbaru - Foto Mesum Terbaru - Cerita Sex Kenekatan Sepupu Istriku - dan Seputar Dewasa Terbaru 2017

Cerita Sex Kenekatan Sepupu Istriku
Cerita Sex Kenekatan Sepupu Istriku

Baru pulang dari luar kota tadi malam Saya agak malas untuk siap-siap ke kantor, nanti agak siang saja Saya masuknya. Istri saya sudah berangkat, anak semata wayang saya sudah ke sekolah. Selesai sarapan yang disiapkan oleh Yuni Saya belum juga mandi tapi menikmati 3 hari koran yang belum sempat saya baca selama keluar kota di sofa ruang tamu. Santai… Hari menjelang siang.

Yuni baru saja selesai mengepel lantai lalu ke belakang. Rasanya ada yang aneh pada Yuni. Tiap hari dia memang mengepel lantai dan itu biasa. Entah apanya yang berbeda pada dia pagi ini Saya tak memperhatikan dan memang tak ingin tahu. Hanya saya rasakan agak aneh saja. Kembali Saya membaca koran. Ketika terdengar suara guyuran air di kamar mandi belakang, juga masih biasa, Yuni selesai bersih-bersih rumah lalu mandi.

Lalu setengah jam kemudian dia tampak sliweran antara dapur dan ruang makan juga biasa. Juga ketika masuk ke kamar anak saya. Sekilas Saya sempat melihatnya lewat dari balik bentangan koran saya. Mungkin ini yang tak biasa, dia tampak lebih rapi dari biasanya. Daster yang dia kenakan tampaknya baru. Mungkin dia mau keluar belanja, pikirku.

Dalam kesibukan dia di ruang makan kadang dia membuat suara-suara benturan piring dan alat lainnya. Dengan sendirinya Saya sedikit mengangkat kepala mengalihkan pandangan dari koran ke arahnya. Itu gerakan refleks yang biasa. Yang tak biasa adalah dia beberapa kali 'tertangkap' sedang memandang ke arah saya tapi tatapan matanya agak ke bawah. Ketika dia sedang ke belakang Saya coba meneliti adakah yang aneh pada diri saya ? Kebiasaan di rumah Saya selalu mengenakan celana pendek. Itu sudah sering dan Yuni juga sudah tahu. Jadi apanya yang aneh? Ah, memang Saya peduli! Saya terus saja membaca.

Sampai tak lama kemudian, saat sedang asyiknya Saya membaca tanpa saya sadari Yuni sudah berdiri di depan saya. Koran saya letakkan, belum sempat Saya membuka mulut untuk bertanya, tiba-tiba Yuni menghambur ke arah saya, duduk di pangkuan saya dan memeluk tubuh saya. Lalu kepalanya yang tersembunyi di dada saya terlihat sedikit berguncang. Yuni menangis. Ada angin apa nih?

"Maafkan aku Kang..." katanya di sela-sela isakan tangisnya.

Yuni memang bukan pembantu. Dia adalah sepupu istri saya, sama-sama dari Kuningan, asal istri saya. Dia cukup cerdas walau SMK saja tak tamat, karena keburu disuruh menikah oleh ibunya. Teman-temannya di kampung pada umumnya hanya tamatan SMP atau bahkan SD. Dia sebenarnya ingin sekolah sampai tingkat sarjana, hanya kebiasaan di kampung mengharuskan anak perempuan sudah berrumah-tangga ketika mencapai umur 16 atau 17 tahun. Malang baginya, ketika usia pernikahan menjelang setahun suaminya tertangkap basah berselingkuh. Dia minta cerai dan ingin ikut istri saya ke Jakarta sambil siapa tahu bisa meneruskan sekolahnya dan menggapai cita-citanya menjadi sarjana pertanian. Di kampung dulu dia memang amat dekat dengan istri saya.

Setelah bicara dengan saya, istri saya setuju menyekolahkan dia sampai tamat. Yuni bersedia kerja apa saja, jadi pembantu sekalipun, untuk mengejar cita-citanya. Kami, saya, istri dan anak saya tak pernah menganggap dia sebagai pembantu. Kami perlakukan dia sebagai salah satu kerabat dekat. Sudah hampir dua bulan dia ikut dengan keluarga kami. Dia sudah terdaftar di SMK kelas tiga, hanya belum mulai sekolah karena menunggu tahun ajaran baru, bulan depan. Umurnya kini 18 tahun. Memang sedikit terlambat. Anak seusia dia umumnya sudah tamat SMU.

"Kenapa Yun?"

"Maafkan aku Kang..."

"Kamu salah apa?"

Dia tak menjawab, masih terisak. Saya coba menduga-duga, mungkin dia tak betah karena mengerjakan urusan rumah tangga mirip pembantu.

"Kamu pengen pulang?"

Yuni menggeleng. Sebenarnya tidak juga sebagai pembantu karena istri saya kalau sedang di rumah juga ikut terjun kerja bersama dia. Anak saya pun begitu. Kami memang sudah biasa tak punya pembantu.

"Atau kamu gak betah di sini?"

"Bukan Kang bukan… Saya senang tinggal sama Teteh..." yang dia sebut teteh adalah istri saya.

"Jadi kenapa?"

Hening sejenak, lalu

"Sayanya Kang, aku yang tak beres..."

"Tak beres apanya? Ayo cerita, jangan sungkan-sungkan. Kamu kan sudah aku anggap adikku sendiri"

"Bukan masalah itu Kang... Akang sekeluarga disini baik-baik semua... aku betah..."

"Lalu ?"

Yuni masih diam, tangisnya mereda. Tapi masih belum mau bicara. Tak sadar Saya mengelus-elus rambutnya yang lurus dan panjang sepunggung, seperti rambut istri saya. Memang Yuni banyak kemiripan dengan istri saya. Wajah mirip, hanya istri saya langsat dia sawo matang. Bentuk tubuhnya sama langsing, hanya dada Yuni sedikit lebih besar. Jangan berpikiran macam-macam. Dari 'tampak luar' saja sudah terlihat, tak harus 'memeriksa' ke dalam. Memangnya Saya sekurang ajar itu berani memeriksa dada sepupu istri saya. Dada? Ah... gumpalan daging kembarnya itu melekat erat di dada saya sekarang. Baru sekarang juga Saya menyadari bahwa bongkahan itu menempel di tubuh saya nyaris tak ada penghalang. Tak ada 'kain keras' di antara kami. Masa sih ? Untuk memenuhi rasa penasaran saya, tangan saya yang sedang membelai rambut Yuni 'mampir' sebentar ke punggungnya. Hanya kain daster saja yang ada dipunggungnya. Benar, Yuni tak mengenakan bra! Saya lebih banyak berpikiran positif. Mungkin saja tadi dia sehabis mandi belum sempat memakainya. Tapi menyadari 'keadaan' begini, sebagai lelaki normal tak urung ada yang menggeliat di balik celana pendek saya.

Lalu, saya biarkan pikiran saya mengelana, saya bayangkan bentuk bongkahan yang menekan dada saya, tentunya masih kencang sebab dia belum punya anak dan belum setahun 'dipakai', dengan putingnya yang kecil dan kecoklatan. Imagi begini jelas saja membuat perangkat bawah saya semakin mengencang. Tiba-tiba Yuni mengangkat kepalanya yang dari tadi ngumpet di dada saya. Ditatapnya mata saya sejenak, lalu pandangan beralih ke tubuh saya bagian bawah dan kemudian menatap saya lagi. Saya yakin pantatnya telah merasakan perubahan yang terjadi di celana saya.

"Kang..." bisiknya serak.

Pantatnya bergerak menggoyang, melumati kelamin saya. Mendadak mulut saya dipagutnya. Saya masih shock atas tindakannya ini sehingga bibir saya pasif saja menerima sapuan bibirnya. Tapi itu tak lama, hanya beberapa saat kemudian bibir saya malah merespon lumatan bibirnya. Kami berciuman. Celakanya, entah bagaimana Saya jadi membayangkan bahwa yang sedang saya ciumi ini adalah istri saya sehingga ciuman kami makin seru.

Saya sempat melayang-layang sampai suatu saat kesadaran saya mendarat kembali ke bumi, rasio mengalahkan emosi. Saya dorong kepala Yuni menjauh, ciuman terlepas.

"Yun...?"

Saya lihat ekspresi wajahnya yang kaget sekejap.

"Kang... maafkan aku... tapi aku butuh banget... butuh Kang... udah lama banget menahan..."

"Kamu sadar Yun?"

"Iya Kang, sadar bahwa aku sangat membutuhkanmu Kang..."

"Kenapa aku?" tanya saya lagi.

"Gak tahu Kang. Tubuhku ini udah lama membara… Udah lama aku coba menahannya tapi aku gak mampu Kang... tolong Akang mengerti..."

Tanpa menunggu reaksi saya Yuni kembali menciumi saya. Kami berpagutan lagi. Saya mulai menikmati. Kesadaran saya berangsur menghilang.

Kemudian, ini gerakan refleks yang wajar dan biasa ketika sambil berciuman telapak tangan kanan saya mulai meremas-remas buah dada kirinya yang hanya tertutup daster. Daging yang sekal sesuai bayangan saya tadi. Yuni melepas ciuman lalu mengerang sambil kepalanya mendongak menikmati remasan saya. Bahkan erangannya mirip rintihan istri saya. Cuma sebentar, kembali dia mengejutkan saya, dengan sigapnya dia melepas kancing-kancing dasternya lalu menyodorkan dadanya ke muka saya. Dua bulatan kembar itu kini terhidang di depan hidung saya. Putingnya kecil tapi telah mengacung ke depan. Saya ciumi buah dadanya, bergantian kanan dan kiri. Puting kecil itu memang keras.

Juga gerakan wajar jika tangan saya kemudian mulai membelai-belai pahanya, menyusup ke balik dasternya, merambat sampai pangkalnya. Lagi-lagi Saya dibikin kaget. Hanya daster itulah satu-satunya pakaian yang melekat di tubuh sintal Yuni. Saya tadi tak memperhatikannya. Selangkangan berbulu halus itu telah membasah dan lembab. Yuni makin menggila.

"Ayo Kang. Sekarang… Aku mohon..."

Rangsangan saya sudah tinggi, tak ada lagi pikiran jernih, gelap mata. Saya bopong Yuni menuju kamar saya, saya rebahkan tubuhnya ke kasur. Secepat kilat Yuni melepas dasternya melalui kepalanya.

Tubuh coklat langsing sekal itu kini telanjang bulat tergolek di kasur saya. Kedua belah dadanya memang bulat dan menonjol dihiasi puting dan lingkaran aerola yang kecil menambah keindahannya. Bulu-bulu halus di bawah perutnya terlihat rapi tanda terawat. Tubuh itu kini gelisah, bergerak-gerak tak tentu. Pahanya sudah membuka lebar. Tunggu apa lagi?

"Ayo Kang..."

Secepat kilat Saya memelorotkan celana pendek saya sekaligus dalemannya. Saya naik ke tempat tidur dan mengarahkan penis saya ke selangkangannya. Kebiasaan saya kalau awal penetrasi lebih suka posisi misionaris, sebab Saya bisa melihat ekspresi wajah lawan main saya ketika penis saya mulai menusuk. Wajah dengan mata terpejam dan kepala sedikit mendongak adalah pemandangan paling eksotis. Saya rebahkan tubuh saya menindihnya. Lalu dengan gerakan agak kasar Saya menekan. Muka Yuni berkerut, dia menggigit bibirnya sendiri, ekspresi seperti orang yang sedang kesakitan. Benar saja...

"Aaaww... pelan-pelan Kang, aku udah lama banget engga ..."

Memang, kepala penis saya serasa membentur tembok walaupun Saya yakin dia telah lembab.

"Oh... maaf Yun..."

Lalu dengan sabarnya Saya perlahan membuat gerakan-gerakan pendek maju-mundur untuk membuka 'pintu' yang sudah lama tak pernah dimasuki. Memang agak susah, harus perlahan dan bertahap. Akhirnya seluruh batang saya tertelan oleh vaginanya. Mulailah Saya 'memompa', masih perlahan agar bisa lebih merasakan gesekan batang saya dengan dinding-dinding liang vaginanya. Milik Yuni begitu eratnya menjepit batang saya, persis seperti milik istri saya pada awal-awal kami menikah. Saya jadi teringat sewaktu berbulan madu dengan istri saya beberapa tahun lalu. Cerocohan ribut yang keluar dari mulut Yuni pun sama. Beginilah rasanya. Hanya satu kata: nikmat!

Lalu Yuni? Sulit saya gambarkan. Gerakan tubuhnya begitu liar, ekspresi wajahnya begitu ekstasi manjadikan dia tampak lebih cantik dibanding biasanya. Itu tanda bagi wanita yang sedang merasakan nikmatnya bersenggama. Rasanya Saya bisa lebih lama bertahan memompa, mungkin karena tadi malam Saya sudah mengeluarkan dua kali 'tabungan' ke tubuh istri saya setelah tersimpan selama 3 hari di luar kota.

Hingga beberapa saat kemudian...

Kedua tangannya mengunci amat erat di tubuh saya dan tubuhnya saya rasakan berguncang-guncang teratur beberapa kali. Saya lalu menghentikan pompaan, memberi kesempatan dia menikmati orgasmenya. Guncangan lalu melemah seiring melemahnya kuncian tangannya. Lalu tangannya rebah ke samping. Yuni terkapar.

"Terima kasih Kang... terima kasih..." katanya sambil menciumi wajah saya.

"Gimana Yun..."

"Enak banget..."

Tubuh saya masih telungkup menindih tubuhnya, batang saya yang masih tegang masih 'tersimpan' di dalam tubuhnya. Saya masih tak bergerak walaupun Saya belum mencapai puncak. Sengaja untuk memberi waktu kepada Yuni untuk menyelesaikan puncak hubungan seks, orgasme. Karena Saya tahu berdasarkan pengalaman, wanita tak mau 'diganggu' bila sedang dalam masa puncak dan beberapa waktu setelahnya. Syaraf-syaraf pada alat kelaminnya menjadi amat sensitif ketika masa orgasme.

Tapi ketegangan penis saya mulai mengendur karena masa pause begini. Saya harus mulai memompa lagi untuk meningkatkan ketegangan batang saya. Lalu Saya mulai gerakan dengan memundurkan penis saya sedikit dan menusuk lagi.

"Aaaahhh... Kang..." erangnya.

Saya terus saja memompa.
Mulutnya mulai berkicau.
Makin cepat.
Gerakannya makin gila.
Saya melambung.
Melayang.
Beberapa detik kemudian…
Saya sampai.
Saya tumpahkan semuanya ke dalam tubuhnya.
Ya. Saya ejakulasi didalam tubuhnya. Tak terpikirkan lagi untuk mencabutnya. Karena kedua kaki Yuni keburu menjepit erat pinggul saya, dan lalu tubuhnya berguncang teratur seperti tadi.

Beberapa saat berlalu, baru Saya menyadari akan akibat penumpahan ke dalam liangnya.

"Yun... Aku keluar didalam..."

"Engga apa-apa Kang... jangan khawatir"

"Maksudmu?"

"Aku masih menyimpan spiral di dalam..."

Saya lega walaupun di kepala ini menumpuk banyak pertanyaan seperti mengapa dia nekat begini.



Cerita Dewasa Sex Perawan, Cerita Dewasa Sex SMA, Cerita Dewasa Sex Gangbang, Cerita Dewasa Sex SPG, Cerita Dewasa Sex ABG,Cerita Dewasa Sex Model, Cerita Dewasa Sex Suster, Cerita Dewasa Sex Mahasiswa, Cerita Dewasa Sex Mahasiswi, Cerita Dewasa Sex Threesome, Cerita Dewasa Sex Pembantu, Cerita Dewasa Sex Tante Girang, Cerita Dewasa Sex Salon++, Cerita Dewasa Sex Lesbi, Cerita Dewasa Sex Gay, Foto Hot ABG Terbaru, Foto Hot Model Terbaru, Foto Hot Mahasiswi Terbaru, Foto Hot Tante Terbaru, Cerita Sex Terbaru 2017, Cerita Mesum terbaru 2017, Cerita Dewasa Terbaru 2017, Dan Lain-lain.

Cerita Sex Rani Perawan Kampung Manis

Cerita Dewasa Terbaru 2017 - Cerita Sex Terbaru - Cerita Panas Terbaru - Cerita Mesum Terbaru - Foto Bugil Terbaru - Foto Cewek Hot Terbaru - Foto Mesum Terbaru - Cerita Sex Rani Perawan Kampung Manis - dan Seputar Dewasa Terbaru 2017

Cerita Sex Rani Perawan Kampung Manis
Cerita Sex Rani Perawan Kampung Manis

Cerita ini berawal pada saat kami baru pindah mengisi rumah baru di Bogor. Pada saat itu kami baru mengisi rumah kurang lebih 1 bulan istri saya mengeluh kesepian karena rumah sekitar kami masih banyak yang kosong dan harus mengurus 2 anak lelaki kami yang memang sedang bandel-bandelnya. Maka kami pun sepakat untuk mencari saudara/pembantu untuk menemani istri saya di rumah serta membantu menjaga kedua anak kami dan akhirnya istri saya pun berangkat ke kampung halamannya untuk mencari saudara/pembantu di kampungnya yang bisa menemani dia.

Singkat cerita akhirnya dapatlah saudara jauh dari istri saya yang bisa di ajak ke rumah baru kami tersebut, memang sih saudara jauhnya tersebut cukup manis dan sangat lugu sekali, maklum orang dusun dan baru pertama kali keluar dari kampungnya sendiri dan langsung dibawa ke tempat yang cukup jauh dari lingkungan rumahnya, tapi kalau masalah pekerjaan memang sudah cukup lihai dari yang namanya mencuci pakaian, mencuci piring, masak, ngepel dan lainnya sudah boleh disebut rapih deh.

Awalnya saya tidak ada perasaan apa-apa sama si Rani ini, tapi setelah waktu berjalan kira-kira 2 bulan Si Rani ini bergabung di rumah kami, barulah terlihat kalau anak ini sedang lagi seger-segernya dan baru mau gede, maklum umurnya waktu itu masih 18 tahunan dan kalau saya perhatikan setiap gaji yang kami kasih ke dia selalu dibelikan segala macam keperluan pribadi (kosmetik dll) dan karena dia suka bersolek diri maka setelah 2 bulan itu dia sudah mulai kelihatan lebih dewasa dan lebih bersih dibandingkan waktu pertama kali datang dari kampungnya di Ciamis.

Suatu hari (kalau tidak salah waktu itu hari Sabtu) Saya kerja setengah hari, jadi waktu sampai di rumah itu kurang lebih sekitar Jam 2 siang dan pada saat saya masuk ke dalam ternyata tidak ada suara yang menjawab, maka saya pun mencoba mencari orang rumah. Dan ternyata yang ada hanya hanya Rani saja yang sedang tidur di kamarnya yang tidak terkunci, dan pada saat itulah baru pertama kalinya saya melihat dia dalam keadaan sedang tidur dengan hanya menggunakan daster pemberian dari istri saya dan pada saat itu dasternya pun tersingkap sampai di atas pinggang. Wow… suatu pemandangan yang cukup menggoda untuk dinikmati, maka pada saat itulah timbul pikiran kotor saya untuk mencoba meraba bagian yang tersingkap tersebut.

Secara perlahan saya dekati dia yang masih tertidur lelap di atas kasur gulung yang kami sediakan untuknya, lalu tanpa ada kesulitan apapun saya sudah mulai mengusap bagian kaki, lalu naik ke bagian pahanya yang hitam manis itu dengan perlahan dan lembut, sampai saking asyiknya saya mengelus-elus bagian itu secara tidak sadar penis saya dibalik celana mulai mengencang, dan karena karena ini juga akal sehat saya sudah mulai hilang karena rabaan-rabaan tangan ini sudah mulai menjalar ke bagian dadanya yang baru mulai merekah. Memang sih saya cuma meraba dari luarnya saja, tapi bisa dibayangkan betapa indahnya bagian dalamnya kalau dibuka.

Tapi rabaan itu saya stop karena si Rani menggeliat yang mebuat saya kaget dan langsung lari meninggalkan kamarnya. Dan tidak lama saya keluar dari kamarnya Rani, istri, anak dan mertua saya datang habis makan Bakso bang yang ada di seberang komplek kami.

Setelah kejadian hari itu saya selalu mencoba mencari kesempatan dalam kesempitan untuk menikmati yang indah-indah dari si Rani tersebut, bahkan pada suatu hari waktu saya mendapatkan uang sampingan dari salah satu kolega kerja, saya coba membelikan dia baju tidur terusan, celana dalam, dan bh yang semua warnanya pink yang di bungkus Koran supaya istri gak curiga. Dan di dalamnya saya kasih sedikit tulisan yang bunyinya: “dipake ya Ran, supaya kamu makin betah disini dan jangan sampe ketahuan si ibu”

Rupanya pemberian saya itu tidak ditolak dan Rani pun langsung ngucapin terima kasih. Dan rupanya pancingan saya itu berhasil, kenapa saya bilang berhasil? Karena si Rani ini rupanya agak sedikit kasih angin ke saya dimana ada kesempatan selalu berlagak genit & manja, dan kesempatan ini tidak saya sia-siakan untuk selalu curi-curi kesempatan. Pernah suatu kali saya bercandain dia di dapur,

“Ran.. kamu tambah manis aja deh… Kamu udah punya pacar apa belum?” tanya saya ke dia sambil saya colek bokongnya yang padet itu.

Dia pun menjawab tanpa beban dan manja, “Belum sih Pak, tapi kayaknya sih mau dapet nih. Abis udah ngasih Rani baju segala sih”

Nah… sejak kejadian di dapur itu saya pun semakin berani.

Akhirnya kesempatan yang saya tunggu-tunggu datang juga, waktu itu anak-anak saya sudah mulai masuk liburan sekolah dan mereka minta diantar ke rumah neneknya di Bogor, dan kami pun (saya, istri & anak)berangkat ke Bogor untuk liburan sekolah dan karena saya harus tetap bekerja maka saya hanya menginap satu malam saja di Bogor untuk kemudian kembali ke rumah pada hari Minggu sorenya. Perjalanan Bogor - Bandung terasa sangat lama sekali karena macet, juga banyak bus-bus pariwisata yang melintas di jalur itu untuk mengantar-jemput orang-orang yang sedang liburan sekolah.

Walaupun agak kesel dan capek akhirnya sampai juga ke rumah pada malam hari sekitar jam 7 malam. Sesampainya di depan rumah saya bunyikan klaskon mobil supaya si Rani membukakan pintu pagar, dan tidak lama kemudian dia keluar dengan memakai daster yang saya belikan dan dimata saya malam itu si Rani nampak lebih seger. Pada saat mobil sudah saya parkir di dalam teras rumah saya mencium bau wangi, sepertinya ini bau parfumnya Rani.

Singkat cerita saya pun sudah selesai membersihkan badan dan menuju ke meja makan untuk menyantap makan malam yang telah disiapkan sama si Rani, saya pun menyantapnya dengan penuh semangat, maklum lapeeer.

Selesai makan saya istirahat di ruang keluarga untuk nonton acara tv. Sedang asyik-asyiknya saya nonton, datanglah otak mesum saya untuk memancing si Rani, dan saya pun atur strategi untuk minta tolong dipijat sama si Rani, maka saya panggillah dia,

“Ran.. tolong kesini”

“”Iya pak” jawabnya.

“Tolong pijitin pundak saya dong… kamu bisa kan?” Tanya saya sambil pura-pura cuek.

Dia pun menjawab, “Iya pak, bisa.. Dipijitnya mau pakai minyak apa.?” tanyanya.

“Kalau bisa sih pakai minyak kayu putih campur minyak goreng aja” jawab saya dengan santai.

Maka dia pun berjalan ke kotak obat untuk mengambil minyak kayu putih, terus ngeluyur ke dapur untuk ambil minyak goreng. Setelah itu dia mendekati saya dan bertanya,

“Mau dipijit dimana pak?”

“Disini saja (Diruang keluarga)” jawab saya.

“Tapi tolong diperiksa dulu pintunya udah ditutup apa belum” kata saya ke dia dan diapun memeriksanya.

“Sudah pak” jawab Rani.

Saya pun sudah tengkurap di depan tv seperti orang yang sudah siap untuk dipijat. Si Rani juga sudah siap memijat di belakang saya. Pada saat dia mulai membalur minyak-minyak tersebut di badan sudah mulai terasa darah ini naik tapi masih tetap saya tahan, dan ternyata tangan si hitam manis ini memang bisa diandalkan untuk memijat, tapi disamping itu saya coba curi-curi pandang ke wajahnya yang manis itu dan wangi parfumnya itu masih saja tercium di hidung saya sampai-sampai si otong saya sudah mulai naik menegang. Tapi untuk memecah keheningan saya coba ngobrol sama dia ngalor-ngidul sampai akhirnya tertuju kepada dia yang masih belum punya pacar. Disinilah saya coba untuk agak berani memegang tangannya yang mungil itu dan dia pun tidak menolaknya, dia hanya bilang,

“Jangan pak… nanti ada yang lihat”

Tapi saya tidak peduli dengan omongannya, dan bahkan membuat saya semakin bersemangat.

“Gak apa-apa kok Ran.. disinikan Cuma ada kamu sama saya aja.. kan si teteh lagi di Bogor”

Birahi setan saya rupanya sudah tidak bisa terkendali lagi, maka saya pun langsung mencium jari-jarinya terus berlanjut ke tangannya terus keatas dan akhirnya saya cium bibirnya. Dia diam saja tanpa ada penolakan seperti waktu tadi pertama saya pegang tangannya. Maklum Orang belum pernah dicium sama cowok bibirnya agak gemetaran dan masih kaku. Saya pun coba membimbingnya dengan sabar sampai akhirnya dia mulai bisa mengimbangi serangan bibirnya. Saya masukkan lidah kedalam mulutnya dan saya permainkan sampai dia mulai benar-benar pasrah, bahkan dia mencoba membalas serangan bibir saya yang memiliki kumis tipis yang membuat semua mantan cewek-cewek saya dulu pasrah kalau sudah kena ciuman maut saya ini.

Tidak hanya sampai disitu saja, setelah dia pasrah maka saya pun sudah mulai berani lagi bergerilya di kedua bukit kembarnya yang masih sangat ranum. Dari luar dengan lemah lembut saya usap-usap berulang kali sampai terasa kalau putingnya sudah mulai menonjol karena birahinya yang naik, dan karena dia makin pasrah saya pun serang dia lagi ke bagian lehernya saya cium dengan penuh nafsu sampai dia mulai tersengal-sengal nafasnya menahan gejolak jiwa. Tidak hanya disitu, saya pun sudah memasukkan tangan saya ke balik BH-nya yang berukuran 34, dan dia pun membiarkannya.

Tangan saya pun mulai bergerilya lagi, mengangkat daster yang dipakainya sampai hanya tersisa BH & CD yang berwarna pink, warna ini adalah warna Favorit saya dan selalu membuat saya bernafsu kalau cewek memakai pakaian dalam dengan warna ini. Tanpa buang-buang waktu lagi saya langsung mengusap vaginanya dari luar CD-nya yang sudah mulai basah. Saya putar-putar terus berulang kali, sampai-sampai keluarlah omongan dari mulut si Rani,

“Pak... ampun.. Pak… Rani gak tahan… geli banget… ooh… ooh… ooh… ampun Pak… ooohh…”

Saya bukannya kasihan tapi malah makin bernafsu aja. Saya turunkan cdnya sampai terlihatlah memek perawan yang sudah basah oleh cairan kenikmatan itu, dan tanpa ampun lagi saya mengobel-ngobel memeknya dengan penuh perasaan dan kelembutan sampai akhirnya kepala Rani bergerak tidak beraturan kekiri kekanan sampai meracau.

“Aaah… Pak… aahhh pak… Rani kok mau pipis nih… aah…”

Jari ini malah semakin gencar memainkannya sambil berkata ke Rani,

“Tenang Ran… kamu pipisin aja biar enak…”

Dan tidak lama kemudian dia pun mengeluarkan cairan keninkmatan, seerrr… seerrrr… seerrr… dengan derasnya membasahi jari-jari saya sambil mengapitkan kedua belah pahanya sampai-sampai tangan saya tidak bisa ditarik, berada diantara kedua pahanya yang hitam manis.

Rani terpejam setelah merasakan kenikmatan yang tidak ada duanya keluar dari vagina perawannya. Saya pun tidak tinggal diam saja melihat kepasrahannya, maka dengan cekatannya saya melumat kembali bibirnya sambil mengusap-usap dua bukit kembarnya yang sudah tanpa BH lagi. Tidak lama saya menikmati bibirnya lalu turun ke leher dan terus saya sapu dengan lidah menuju ke bukit kembarnya, dia pun sudah pasrah tanpa daya ketika bibir saya mulai melumat putingnya yang masih ranum dan mulai mengeras karena terangsang oleh permainan bibir yang berkumis tipis ini. Dia hanya meracau.

“Pak… jangan Pak… saya takut ada yang lihat… aaah… ooh… aah.. ohh…”

“Tenang aja Ran, teteh ga ada kok… Aduh Ran… nikmat banget susu kamu… segeerrr”

Saya dengan nafsunya melumat payudara si Rani, saya permainkan lidah saya ini diatas pentilnya beberapa kali, dan sedikit saya gigit kecil, dia pun menjerit manja.

“Ooohh… aah… ampun Pak… Rani gak tahan mau pipis lagi… aaaahhh…”

Saya pun semakin ganas memainkan lidah saya mengemut bak anak yang lagi nenen sama ibunya dan Rani pun semakin tidak karuan gerakannya, dan akhirnya dia orgasme untuk yang kedua kalinya sambil berkata,

“Aaahh… ahh… Rani mau… pipis… lagi… aah…aaahhh… enak…”

Puas juga rasanya sudah bikin perawan kampung meerasakan kenikmatan yang luar biasa, maka tanpa pikir panjang lagi saya buka CD yang dari tadi sudah keras torpedo di dalamnya, dan menyodorkannya ke mulut dia yang lagi digigit sambil meerasakan sisa-sisa kenikmatan. Memang sih dia agak kaget,

“Iiiii… ini apaan pak kok di deketin ke mulut Rani…???” kata Rani.

“Tenang Ran, coba kamu jilatin aja nanti juga kamu bisa ngerasain enaknya…” rayu saya ke dia.

“Ah enggak ah... Rani takut pak”

Akhirnya saya paksakan untuk dikulum kemulutnya sambil saya bilang,

“Kamu harus coba dulu… anggap aja kamu makan es krim, caranya kamu jilatin dulu ujungnya, terus kamu sedot-sedot, terus kamu kulum pake lidah…” dan diapun mau juga mencobanya walaupun agak jijik juga ragu.

Awalnya memang agak kasar dia memainkannya, tapi saya coba sambil mengusap-usap rambutnya yang hitam terus turun ke lehernya untuk merangsang dia. Dan ternyata berhasil, dia pun mulai bisa memainkannya.

“Rani… terus diisap… terus… enaaak Ran, mainin lidahnya… Ran… terus… keluar masukin dari mulut kamu…”

“Wow… enaakkk banget… kamu mulai pinter nih…” puji saya ke dia.

Saya sudah mulai terangsang dengan permainannya, saya dorong dia ke ujung sofa dan saya coba mencari selangkangannya. Setelah saya dapatkan, maka saya mencari memek perawan yang ada diantara kedua selangkangannya, lalu saya jilatin dengan penuh nafsu. Dia agak kaget juga waktu saya mulai menjilati memeknya yang sudah basah dari tadi dan sempat menolak.

“Pak… jangan Pak… Rani malu… tadi kan abis kencing, nanti bau lho…” katanya sambil meracau.

“Ooh… aah… ooh... aah… Pak jangan…” katanya sambil menutupi memeknya dengan kedua pahanya yang hitam manis, dan dengan sedikit paksaan saya buka pahanya lalu menyerangnya lagi dengan jilatan-jilatan kenikmatan.

“Ooh… oh… aachh…” desahnya.

Saya masukkan lidah saya kedalam memeknya dan tampak jelas klitorisnya yang memerah serta tercium bau khas memek perawan kampung yang membuat siapapun yang menciumnya pengen ngerasain juga. Dan setelah saya terus memainkannya dia pun akhirnya pasrah dan tidak ada lagi penolakan, bahkan dia makin pintar lagi memainkan penis saya didalam mulutnya. Permainan 69 sembilan itu berjalan sekitar 15 menit sampai akhirnya kedua pahanya menjepit kepala saya sebagai tanda kalau dia mau keluar lagi, dan saya bilang ke dia,

“Rani… ooh… tolong jangan dikeluarin dulu… honey… please…”

Tapi rupanya dia sudah gak tahan lagi, maka keluarlah cairan kenikmatan itu lagi, dan…

“Aaachh… Rani… pipis lagi… nih… Pak… Bapak nakal sih…”

Terlihat di wajahnya yang memerah karena menikmatinya dan karena dia sudah keluar untuk ke 3 kalinya sedangkan saya belum keluar, maka saya paksa dia untuk mengulum penis saya dengan segala kemampuannya. Dan setelah berjalan sekitar 5 menit dimainkan oleh bibir mungilnya itu, akhirnya saya pun hampir sampai keluar dan sengaja saya tidak bilang ke Rani kalau saya mau keluar.

“Ooh… ohh… enaaak… Ran… kamu sudah pinter… ooohh… enak banget”

Dan akhirnya… crooott… croottt… croottt… muncrat juga sperma dari penis saya yang ada dalam mulutnya, dan pada saat keluar itu saya tahan kepalanya Rani supaya tetap mengulum penis saya, dan alhasil dia pun menelan semua sperma yang keluar bahkan sampai keluar luber dari mulutnya. Dia hanya diam dan menatap saya dengan sendu sambil berkata,

“Eeeh... bapak jahat sama Rani… kok ga dibilangin kalo mau pipis… Rani jadi minum air pipis bapak nih…”

Dasar perawan kampung, dengan polosnya dia tanya ke saya,

“Pak… kok air pipisnya kentel yah… trus agak asin lagi… Rani takut pak…”

Dasar perawan kampung pake tanya segala lagi, gerutu saya dalam hati. Setelah saya keluar saya minta Rani untuk membersihkannya dan dia saya ajak ke kamar mandi untuk sama-sama membersihkannya di kamar mandi yang ada di kamar saya dan dia pun saya gandeng ke kamar dengan sama-sama kami telanjang bulat.

Setelah kami saling membersihkan badan di kamar mandi dalam kamar saya, saya gandeng dia untuk sama-sama berdiri didepan kaca lemari pakaian yang cukup tinggi agar dia bisa lihat saya dan dia sedang berbugil ria dan sambil saya dekap dia dengan mesranya dengan diiringi rabaan-rabaan nakal tangan saya ke bukit kembarnya yang masih segeeer juga ranum, sedangkan tangan saya yang satunya coba mengobel memeknya dengan lembut. Hal ini sengaja saya lakukan agar dia bisa saya ajak lebih lanjut lagi.

Ternyata siasat saya membuahkan hasil, dia menggeliat keenakan pentil susunya diusap-usap dan lehernya saya kecup-kecup kecil sambil sesekali saya jilat dengan lidah saya. Siasat itu terus saya jalankan sambil kecupan saya ke sekujur tubuhnya sampai saya berada tepat di bukit kembarnya dan saya ledek dia bak anak kecil yang pengen nenen ke ibunya,

“Say… aku mau nenen dong.. aku haus nih…” tanpa ragu saya serang bukit kembarnya dan dia diam saja sambil meracau.

“Aaahh… ooh... aahhh… enaaaak Pak… gelii… kena kumis bapak… Rani gak kuat berdiri nih…”

Dengan perlahan tapi pasti saya ajak dia untuk ditelentangin di atas springbed, dan tanpa susah payah dia pun sudah pasrah telentang tanpa sehelai benagpun di atasnya. Saya mulai dengan menciumi memeknya yang masih perawan itu sambil saya jilati dengan lidah yang pengalaman ini. Baru juga berselang 5 menit saya mainkan lidah saya si Rani sudah mulai basah dan melenguh,

“Aachh… aach… oohhh… terusin Pak… enak banget jilatannya…”

Tidak hanya di situ saja menjilatinya lidah ini terus menelusuri ke bagian duburnya dan diantara keduanya itulah saya pacu menjilatinya lagi.

“Ooh… enak Pak.. aach… aaachh… eeh… Bapak jorok.. kok dubur Rani dijilatin juga… aaahh… tapi enaaaaakkkk… aaachh terusin… ooohh…”

Karena melihat gelagat seperti itu, tangan saya pun mulai bergerilya ke bagian bukit kembarnya untuk diusap-usap, dan tanpa diduga-duga dia menarik paksa torpedo saya untuk dikulum lagi dengan buasnya. Rupanya dia sudah bener-bener horny, dan sekarang dia sudah tidak ragu-ragu & malu-malu lagi untuk mengulumnya.

Serangan itu terus berlangsung sekitar 20 menitan sampai akhirnya dia terkulai lemas sambil berkata,

“Aaaah… aahh… Rani mau pipis lagi nih… ooh pak awas nanti kena pipis Rani… aaahh…” dan keluarlah semua yang ada di dalamnya.

Saya benar-benar sudah konak banget ngeliat dia seperti itu dan tanpa tunggu-tunggu lagi dan buang-buang waktu lagi saya pun langsung memantapkan posisi torpedo pas di depan memek perawan kampung itu. Dengan lemah lembut saya bimbing torpedo saya memasuki lubang kenikmatan itu sambil bibir ini terus menciumi dan mengisap kedua bukit kembarnya si Rani, dan karena sudah terbuai kenikmatan dia pun tidak ada perlawanan yang berarti sampai pada saat saya akan memasukan torpedo saya, dia meracau

“Pak… jangan pak… jangan… nanti… aachh… aduuhh… sakiiiitt…”

“Tenang aja sayang… sakitnya cuma sebentar kok.. nanti pasti enak…”

Sedikit demi sediki penis saya memasuki memeknya dan dengan berirama saya ayun maju mundur maju mundur berulang kali sampai akhirnya Rani tidak bersuara lagi, bahkan dia sudah mulai menikmati irama birahi kami.

“Ooh… memek kamu masih perawan sayang... ooh… enak banget… sempit bangeett… Rani… oohhh… enak…”

Rani mulai mengimbangi permainan saya, saya tarik pelan-pelan penis saya, terus itu keluar masuk beberapa kali.

“Ooh.. Pak.. enak Pak.. terus.. pak… genjotin oh.. oh.. oh.. ach… aachh…”

Tanpa sadar dia sudah mulai menggoyang pantatnya kekiri kekanan, saya makin semangat melihat goyangan perawan kampung ini apalagi melihat susunya yang turun naik terdorong gerakan badannya yang erotis, medadak saya cabut kontol ini dari sarangnya dan Rani berteriak,

“Oooh… jangan dicabut.. oohh lagi enaaak… niiihhh…”

Ini sengaja saya lakukan untuk memancing rasa penasarannya, dan ternyata berhasil. Dia langsung mendorong saya ke atas tempat tidur untuk merubah posisi agar dia berada di atas, dan dia langsung naik ke atas perut saya mengambil posisi yang pas untuk memasukan kontol ini ke dalam sarangnya. Setelah pas posisinya dia pun langsung bergoyang laksana kuda yang kehilangan kendali. Terdengar suara penis keluar masuk memek, preetttt… preetttt… dalam kondisi seperti itu saya pegang pantatnya agar gerakan erotisnya tambah berirama turun naiknya.

Tepat diatas kepala saya terlihat indah dua buah bukit kembar yang bergelantungan seakan meminta untuk dilahap. Tanpa ragu-ragu lagi saya pun melahapnya dengan penuh gairah.

“Oohh…csusu kamu enak banget Ran… terus goyang Ran…”

Mulut saya memainkan lidahnya di kisaran puting susunya sementara dia terus bergoyang, dan akhirnya gerakan-gerakannya semakin cepat tanpa terkendali, sampai-sampai dia mencakar saya sambil berteriak.

“Ooohh… Pak… Pak… saya mau.. mau pipis lagi… ooouchh.. aahhh…”

Karena gerakannya yang semakin dahsyat saya pun menurun-naikkan pantat saya agar dia cepat keluar. Dan alhasil dia mengejang lalu terkulai jatuh di atas dada saya, sangat terasa air kehangatan yang keluar dari dalam memek itu mengguyur kontol yang masih berada di dalam sarangnya. Saya tidak mau kehilangan kesempatan yang enak itu hanya direnggut sama Rani saja. Setelah dia sampai, saya tarik kontol saya dari memeknya dan Rani saya suruh menungging untuk saya masukin lagi penis saya.

Walaupun saya tahu dia masih belum hilang rasa nikmatnya dan setelah dia pada posisi saya masukan kontol ini ke memek perawan kampung itu dengan mudahnya, lalu saya gerakkan keluar masuk, dan karena memek itu masih basah bekas cairan kenikmatan yang keluar dari dalamnya maka gerakan itu bisa langsung pada yang inti yaitu tusukan panjang dan pendek. Dia pasrah, kontol saya keluar masuk dengan bebasnya dan antara pantat dengan pangkal kontol saya saling beradu.

Permainan ini berlangsung sekitar 15 menitan, dan akhirnya saya pun hampir sampai ke klimaks yang saya tunggu-tunggu. Gerakan saya percepat, dan si Rani pun ikut bergoyang juga sampai akhirnya …

“Rani… saya.. mau sampai.. nih… ooh… aah… terus goyang sayang… ooh… ooh… oooohh… croot… croot… crott… seeerrr…”

“Oooh enak pak… jangan di cabut dulu kontolnya… ooohh.. enaaaaakkk… biarin aaajaah… dulu di dalem.. pak Rani lagi eenaaakkkk…please jangan dilepaaassss.. oh… oh…”

Rupanya si Rani pun mencapai oragnsmenya untuk yang kesekian kalinya. Dia hanya terdiam dan kami pun lunglai berduaan diatas springbed telanjang bulat setelah bergelut dengan birahi selama kurang lebih 3 jam. Si Rani saya belai rambut hitamnya dengan mesra, saya cium pipinya dan saya kulum sebentar bibirnya, sebagi tanda terima kasih. Tidak terlihat di wajahnya rasa penyesalan sedikitpun, bahkan sepertinya dia mau mengulang lagi pertempuran malam itu.

Maka sejak saat itu apabila ada kesempatan untuk ML sama dia selalu kami lakukan kapan saja dan dimana saja tidak mengenal tempat dan waktu, sampai akhirnya dia pulang ke kampunya karena dipanggil sama orangtuanya untuk kawin, dan sejak itu saya tidak pernah ketemu lagi sama dia. Oh… sungguh pengalaman yang sangat nikmat.

Selamat jalan Rani, Perawan kampung yang manis.



Cerita Dewasa Sex Perawan, Cerita Dewasa Sex SMA, Cerita Dewasa Sex Gangbang, Cerita Dewasa Sex SPG, Cerita Dewasa Sex ABG,Cerita Dewasa Sex Model, Cerita Dewasa Sex Suster, Cerita Dewasa Sex Mahasiswa, Cerita Dewasa Sex Mahasiswi, Cerita Dewasa Sex Threesome, Cerita Dewasa Sex Pembantu, Cerita Dewasa Sex Tante Girang, Cerita Dewasa Sex Salon++, Cerita Dewasa Sex Lesbi, Cerita Dewasa Sex Gay, Foto Hot ABG Terbaru, Foto Hot Model Terbaru, Foto Hot Mahasiswi Terbaru, Foto Hot Tante Terbaru, Cerita Sex Terbaru 2017, Cerita Mesum terbaru 2017, Cerita Dewasa Terbaru 2017, Dan Lain-lain.

Cerita Sex Aku Kewalahan Menghadapi Permainannya

Cerita Dewasa Terbaru 2017 - Cerita Sex Terbaru - Cerita Panas Terbaru - Cerita Mesum Terbaru - Foto Bugil Terbaru - Foto Cewek Hot Terbaru - Foto Mesum Terbaru - Cerita Sex Aku Kewalahan Menghadapi Permainannya - dan Seputar Dewasa Terbaru 2017

Cerita Sex Aku Kewalahan Menghadapi Permainannya
Cerita Sex Aku Kewalahan Menghadapi Permainannya

Saya terbangun karena merasa ada yang mengelus-elus payudara saya, dia sedang memandangi saya sambil mengelus-elus payudara saya,

"Udah pagi ya mas" kata saya setengah ngantuk.

"Belum. Baru jam 5, masih bisa satu ronde lagi ya Nis" jawabnya.

Luar biasa dia ini, gak ada puasnya menyetubuhi saya. Saya dipeluknya dan bibir saya diciumnya, saya membalas memeluknya. penisnya mulai saya remas-remas sehingga terasa kembali mengeras. Terus saja saya remas-remas sampai jadi keras sekali. Dia sudah siap menyodok vagina saya lagi. Saya bangun dan mulai mengisap batang penisnya. Dia merubah posisi menjadi 69 sehingga bisa mengakses vagina saya. Vagina saya dijilatinya, saya mengangkangkan paha saya sehingga dia bisa menjilati klitoris saya. Isepan saya menjadi melemah karena serangan fajarnya di vagina saya.

"Mas , subuh subuh gini udah ngasih kenikmatan lagi buat Nisa" kata saya sambil mengocok-ngocok penisnya.

"Mas, Nisa udah napsu banget, dimasukin lagi dong mas" pinta saya.

Dia juga sudah sangat bernafsu juga, segera saya ditelentangkan, dinaiki dan penisnya ditancapkan lagi ke vagina saya, kemudian mulai disentakkan keluar masuk. Sebentar saja seluruh penisnya sudah menancap kembali di vagina saya, enjotannya tambah cepat dan keras.

"Enak banget mas" erangku.

Dia terus saja menggenjot vagina saya dengan penisnya. Akhirnya kembali saya mengejang keenakan,

"Mas , Nisa nyampe mas. Mas pinter amat sih nyodok memek Nisa, sebentar aja Nisa udah nyampe" lenguh saya.

Dia terus saja mengenjotkan penisnya keluar masuk. Cukup lama dia mengenjot vagina saya dengan penisnya sampe akhirnya saya nyampe lagi,

"Mas Nisa nyampe lagi mas, mas lama banget sih keluarnya, Nisa udah lemes banget mas" erangku.

Dia terus saja mengenjot vagina saya sampe akhirnya,

"Nis, aku mau keluar…"

Dia menancapkan penisnya dalam-dalam di vagina saya dan terasa semburan spermanya di vagina saya.

"Nikmat banget ngentotin kamu Nis, vagina kamu bisa kedutan, rasanya kaya diemut sama mulut kamu" katanya.

Kemudian dia mencabut penisnya dari vagina saya dan berbaring disebelah saya.

"Nis, nanti sore kita lanjut lagi yuk, kita main semalem lagi" katanya.

"Dimana mas?"

"Ya ditempatku lah. Kalo nginep semalem lagi kan mencolok, kelihatan sama temenku"

Saya hanya tersenyum dan akhirnya tertidur lagi dipelukannya.

Hari itu saya mengiktui training dengan lesu, maklum aja semaleman “dihajar” sampai klimaks berkali-kali, pastinya ngantuk dan lemes. Presentasi kelompok diskusi saya, saya hanya terdiam saja menjadi pendengar. Selesai training, saya ikut mobilnya. Di perjalanan kami mengisi perut dulu karena memang sudah waktunya, setelah itu baru ke apartmentnya. Saya duduk disofa. Dia masuk kamar mandi, ketika keluar hanya mengenakan celana pendek dan t-shirt, badannya masih tegap. Dia mengambilkan saya soft drink dingin, lalu membukakan untuk saya. Saya meminumnya.

"Mau mandi yang?” tanyanya sambil memeluk saya.

Saya diciumnya, tangannya segera meremas-remas payudara saya kembali. Nafsunya bukan main. Segera saya ditelanjanginya, payudara saya diciuminya dan puting saya diemut-emutnya, segera saja pentil saya mengeras. Tangannya segera saja mengiliki klitoris saya, dia sepertinya mau memanfaatkan waktu seefisien mungkin.

"Mas, kok napsu banget sih sama Nisa?" tanya saya.

"Abis ngentot sama kamu nikmat banget sih" jawabnya.

"Nisa kan juga dapet nikmatnya dipatil lagi sama kontol mas" jawabku.

Kemudian dia melepas celana dan t-shirtnya, dia rupanya tidak mengenakan CD. penisnya sudah ngaceng dengan keras. Dia duduk di ubin didepan saya, kaki saya dikangkangkannya. Badan saya diseretnya sehingga saya setengah rebah di dipinggir sofa. Lidahnya mulai menggesek vagina saya dari atas ke bawah. Klitoris saya menjadi sasaran berikutnya, dijilat, dihisap, kadang digigit pelan, lalu dijilati lagi.

"Mas , enak banget mas… terus mas…" erangku.

Dia terus menjilati klitoris saya sampai saya mencapai klimaks.

"Aaakhh mas… belum dientot Nisa udah nyampe, mas lihai banget deh makan vagina Nisa" kata saya.

Dia berdiri, saya ditariknya supaya duduk. penisnya tepat ada didepan muka saya, segera saja saya genggam dan saya emut kepalanya. Mulut saya mulai mengeluar-masukkan penisnya sambil batangnya saya kocok-kocok dengan cepat dan keras. Dia mengejotkan penisnya pelan dimulut saya seperti sedang mengentoti mulut saya.

Beberapa saat kemudian, dia berbaring di sofa, saya segera menaiki badannya dan menancapkan penisnya di vagina saya, saya sentakkan badan saya kebawah dengan keras sehingga sebentar saja penisnya udah menancap semua di vagina saya. Saya naik turunkan pantat saya dengan cepat sehingga penisnya terkocok oleh vagina saya dengan cepat juga.

"Aakhhh… nikmat banget Nis…" erangnya.

Saya merasa sudah mau nyampe, tapi dia menahan badan saya sehingga saya berhenti mengenjot. penisnya dikeluarkan dari vagina saya, saya disuruhnya telungkup menungging di sofa dan kembali penisnya ditancapkan ke vagina saya dari belakang. Bleesss… penisnya langsung saja menancap semuanya ke vagina saya.

"Aaakhh… nikmatnya…" kali ini saya yang menggerang.

Dia langsung mengenjot vagina saya dengan cepat dan keras. Terasa sekali penisnya menggesek vagina saya, kalau dienjotkan dengan keras terasa penisnya menancap dalam sekali di vagina saya. Makin cepat dienjot makin nikmat rasanya. Tiba-tiba…

"Aaakhh… mas, Nisa nyampe, mas…"

Kenikmatan saya meledak juga akhirnya. DIa terus saja mengenjotkan penisnya keluar masuk dengan cepat sampai akhirnya kembali dia ngecrot.

"Nis, aku keluar… nikmat banget rasanya Nis…" terasa kembali spermanya membanjiri vagina saya.

"Mas, Nisa lemes banget mas, baru sampe apartement udah dientot lagi. Mas gak ada matinya ya…" kata saya sambil tersenyum.

"Ya udah kita mandi terus tidur, besok pagi kita main lagi ya" jawabnya sambil masuk ke kamar mandi.

Saya berbaring saja di sofa sambil istirahat. Selesai mandi, dia keluar masih bertelanjang bulat. Giliran saya mandi. Nikmat berdiri dibawah shower air hangat, apalagi setelah kerja keras barusan. Selesai mandi, dia sudah berbaring diranjang, saya berbaring disebelahnya dan tak lama kemudian saya tertidur.



Cerita Dewasa Sex Perawan, Cerita Dewasa Sex SMA, Cerita Dewasa Sex Gangbang, Cerita Dewasa Sex SPG, Cerita Dewasa Sex ABG,Cerita Dewasa Sex Model, Cerita Dewasa Sex Suster, Cerita Dewasa Sex Mahasiswa, Cerita Dewasa Sex Mahasiswi, Cerita Dewasa Sex Threesome, Cerita Dewasa Sex Pembantu, Cerita Dewasa Sex Tante Girang, Cerita Dewasa Sex Salon++, Cerita Dewasa Sex Lesbi, Cerita Dewasa Sex Gay, Foto Hot ABG Terbaru, Foto Hot Model Terbaru, Foto Hot Mahasiswi Terbaru, Foto Hot Tante Terbaru, Cerita Sex Terbaru 2017, Cerita Mesum terbaru 2017, Cerita Dewasa Terbaru 2017, Dan Lain-lain.

Cerita Sex Didalam Bis Bersama Kakak Ipar

Cerita Dewasa Terbaru 2017 - Cerita Sex Terbaru - Cerita Panas Terbaru - Cerita Mesum Terbaru - Foto Bugil Terbaru - Foto Cewek Hot Terbaru - Foto Mesum Terbaru - Cerita Sex Didalam Bis Bersama Kakak Ipar - dan Seputar Dewasa Terbaru 2017

Cerita Sex Didalam Bis Bersama Kakak Ipar
Cerita Sex Didalam Bis Bersama Kakak Ipar

Saya mempunyai seorang kakak ipar yang bisa dikatakatan cantik dan seksi. Tubuhnya masih bagus walaupun sudah punya anak dua. Wajahnya putih mirip orang arab. Suaminya, yaitu abang saya bekerja sebagai auditor di sebuah perusahaan terkemuka di Jakarta. Dan karena pekerjaannya suaminya sering sekali keluar kota, kadang-kadang sampai seminggu. Oleh karena khawatir, saya selalu pergi ke rumah kakak ipar saya.

Disana saya tidak melakukan apa-apa, cuma kadang-kadang saya mengambil kesempatan melirik atau melihat gerak-gerik kakak ipar saya ini. Kadang-kadang kakak ipar saya meyadari perbuatan saya ini. Tapi dia mungkin merasa biasa saja mengingat saya adalah adik iparnya. Bagaimanapun saya tak pernah melakukan perbuatan tak senonoh di rumah abang saya ini. Cuma sekali-sekali bila ada kesempatan saya sengaja menyenggolkan badan saya ke badan kakak ipar saya saat berpapasan. Kak Dilla pura-pura tak tahu dengan perlakuan saya ini. Hal itu membuat nafsu saya makin menjadi-jadi untuk melakukan sesuatu yang lebih lagi.

Saya selalu membayangkan bisa menikmati tubuh montoknya. Saya selalu memikirkan bagaimana merencanakan untuk melaksanakan niat jahat saya ini, tapi semuanya tak pernah kesampaian. Pada hari lebaran kami semua pulang kampung di Jawa Timur. Saya pulang ke rumah nenek saya. Karena tidak mempunyai mobil, saya pulang naik bis sedangkan abang serta kakak ipar saya pulang dengan mobil mereka. Kami akan berada disana sekitar 2 minggu. Yang menarik untuk saya adalah, saya mendapat berita gembira untuk melaksanakan rencana saya. Ketika mau pulang ke Jakarta minggu depan, abang saya menelpon saya bahwa dia terpaksa pergi ke luar kota selama seminggu karena ada urusan pekerjaan. Jadi dia meminta tolong saya untuk pulang bersama kak Dilla naik bis.

Mengingat orang-orang sudah kembali ke Jakarta, maka saya tidak mempunyai masalah untuk membeli tiket. Saya membeli tiket dengan tempat duduk yang terletak di belakang sekali karena saya mau melaksanakan misi jahat saya dengan kakak ipar saya. Bis akan bertolak pada pukul 9 malam dan akan sampai keesokan subuh. Jadi banyak waktu dan hal yang bisa saya lakukan.

Waktunya sudah tiba, kami pun bertolak ke Jakarta. Saya lihat kakak saya memakai dress. Ini memudahkan pekerjaan saya untuk merabanya. Dalam 2 jam pertama perjalanan saya mengambil kesempatan mengobrol dengan kak Dilla. Kadang-kadang saya membuat lawakan bodoh yang membuat kak Dilla tertawa. Saya juga cukup berani dalam membuat lelucon sambil tangan saya mencubit pahanya. Kak Dilla pura-pura tak tahu saja.

Setelah beberapa jam perjalanan, bis pun mematikan lampunya menjadikan keadaan didalam bis cukup gelap. Saya dapat melihat dalam keadaan samar, kak Dilla sudah mula mengantuk. Saya mengambil kesempatan ini dengan mengatakan dia boleh bersandar di bahu saya kalau mau tidur. Kak Dilla hanya tersenyum saja dan merebahkan kepalanya di bahu saya. Saya hanya membiarkan kak Dilla tidur sebentar sebelum saya melaksanakan misi saya.

Setelah melihat kak Dilla tertidur, saya mulai tak dapat mengawal nafsu saya yang sudah memuncak ini. Saya dengan perlahan-lahan mencium bibir kak Dilla. Tiba-tiba kak Dilla terjaga karena perbuatan saya ini. Saya mengatakan bahwa saya hanya ingin menciumnya saja. Kak Dilla tidak protes, tapi dia mengatakan dia takut orang lain melihat. Jawaban yang diberikan cukup meyakinkan saya bahwa kak Dilla telah memberi lampu hijau kepada saya. Tanpa berkata banyak, saya terus mencium bibir kak Dilla dengan rakus sekali. Kak Dilla coba menolak tapi lama kelamaan dia pasrah dan membiarkannya saja.

Saya dengan cepat meremas kedua buah dadanya dan setelah itu tangan kanan saya menyibak bajunya lalu menggosok vaginanya. Setelah agak lama, saya menanggalkan branya dan menyibak dress-nya ke atas lalu menghisap payudaranya. Kak Dilla mendesah keenakan. Setelah itu saya terus menurunkan wajah saya kebawah lagi, saya menjilat vagina kak Dilla yang tembem itu. Dengan rakus saya menjilat liang kemaluannya, saya lihat matanya terpejam rapat sambil tangannya menekan kepala saya dengan kuat ke vaginanya.

Saya jilat dari tepi liang vaginanya sampai kedalam vaginanya. Saya juga menjilat klitorisnya sampai membuat kak Dilla menggeliat keenakan. Sampai ke suatu saat saya rasakan vaginanya basah karena kenkmatan yang tak terhingga. Setelah itu saya mengeluarkan batang kemaluan saya yang agak besar dan menarik kepala kak Dilla kebawah. Kak Dilla seperti tau kehendak saya, dan tanpa basa basi langsung menghisap batang saya itu. Karena batang saya agak besar, saya lihat kak Dilla sesekali sesak nafas.

Hisapan dan jilatan yang luar biasa dari kakak ipar saya ini membuat saya bergairah dan hilang arah seketika. Sehingga tiba saat nafsu saya memuncak, saya menekan kepala kak Dilla kebawah sehingga batang saya masuk sampai ke tenggorokanknya dan saya lalu memuncratkan air mani saya kedalam mulutnya. Air mani saya memenuhi mulut kak Dilla. Saya lihat kak Dilla menelan saja air mani saya. Setelah itu saya kelelahan dan kami berpelukan tanda kepuasan tak terhingga.

Namun ini hanya permulaan dari rencana saya. Saya masih belum menjelajahi vagina kakak ipar saya dengan batang besar saya ini. Rencana saya selanjutnya adalah saat sudah sampai ke rumahnya besok pagi, mengingat rumah kak Dilla tidak ada orang karena suaminya ke luar kota dan anaknya masih di kampung bersama nenek mereka. Jadi bila sudah sampai ke rumah kak Dilla, saya berjanji pada diri saya akan menggenjot dan menelanjangi tubuh kakak ipar saya sepuas-puasnya tanpa ada yang menghalangi.



Cerita Dewasa Sex Perawan, Cerita Dewasa Sex SMA, Cerita Dewasa Sex Gangbang, Cerita Dewasa Sex SPG, Cerita Dewasa Sex ABG,Cerita Dewasa Sex Model, Cerita Dewasa Sex Suster, Cerita Dewasa Sex Mahasiswa, Cerita Dewasa Sex Mahasiswi, Cerita Dewasa Sex Threesome, Cerita Dewasa Sex Pembantu, Cerita Dewasa Sex Tante Girang, Cerita Dewasa Sex Salon++, Cerita Dewasa Sex Lesbi, Cerita Dewasa Sex Gay, Foto Hot ABG Terbaru, Foto Hot Model Terbaru, Foto Hot Mahasiswi Terbaru, Foto Hot Tante Terbaru, Cerita Sex Terbaru 2017, Cerita Mesum terbaru 2017, Cerita Dewasa Terbaru 2017, Dan Lain-lain.

Cerita Sex Tanteku yang Alim

Cerita Dewasa Terbaru 2017 - Cerita Sex Terbaru - Cerita Panas Terbaru - Cerita Mesum Terbaru - Foto Bugil Terbaru - Foto Cewek Hot Terbaru - Foto Mesum Terbaru - Cerita Sex Tanteku yang Alim - dan Seputar Dewasa Terbaru 2017

Cerita Sex Tanteku yang Alim
Cerita Sex Tanteku yang Alim

Selama ini saya punya seorang tante. Namun karena dia masih muda, dan karena menjadi istri keempat dari paman saya, maka saya sering memanggilnya mbak Nina. Usianya 30 tahun. Mbak Nina adalah seorang wanita yang taat beribadah dan alim. Jika keluar rumah, ia selalu mengenakan jilbab lebar dan jubah terusan. Bahkan jika di rumah sedang menunggui warungnya, ia juga memakai jilbab lebar dan jubah untuk memudahkan saat ada pelanggan. Sudah lama saya mengagumi wajahnya yang cantik dan kulitnya yang putih. Wajah dan suaranya yang seakan sendu dan pasrah selalu membuat birahi saya meninggi saat ada didekatnya. Apalagi dengan bibir indah dan hidung mancung.

Suatu saat, saya pernah main ke rumahnya dan mendapati ia sedang mandi. Saya langsung mengintipnya dan melihat ia sedang mandi sambil bermasturbasi. Desahan-desahannya membuat saya panas dingin. Apalagi sembari melihat tubuhnya yang putih montok tanpa sehelai benangpun. Namun entah mengapa, saya lebih terangsang jika melihat ia memakai jilbab dan jubah panjangnya. Sensasi yang terjadi seakan lebih erotis.

Suatu hari, paman ditugaskan ke bandung selama 2 minggu. Saya diminta untuk terkadang menjenguk Mbak Nina, karena ia adalah istri kesayangan paman. Kesempatan untuk mendapatkan apa yang saya inginkan. Saya tahu, paman adalah seorang pria yang gairah seksnya tinggi. Itu juga alasan ia mampu melayani keempat istrinya. Maka, pastilah mbak Nina yang sudah ditinggal 1 minggu dan tidak merasakan belaian suaminya, merasa rindu pada belaian laki-laki. Biarlah saya yang melayaninya. Hehehe…

Sampai di rumahnya, saya menemukan ruang depan kosong. Siang-siang begini pasti mbak Nina menunggu warungnya di ruangan kecil dibelakang warung. Ruangan itu berisi ranjang yang biasa digunakan untuk berbaring jika menunggu warung. Mungkin Mbak Nina sedang tidur disana. Saya berjingkat agar langkah saya tak kkedengaran.

Sampai di ruangan itu, benar saya lihat Mbak Nina tidur. Posisi tidur Mbak Nina telentang dan Mbak Nina hanya memakai jubah merah muda yang tipis dan jilbab berbahan kaus yang tersingkap. jubahnya sudah terangkat sampai di pangkal pahanya, sehingga agak terlihat CD mini yang dikenakannya berwarna putih tipis, sehingga terlihat belahan kemaluan Mbak Nina yang ditutupi oleh rambut hitam halus kecoklatan. Buah dada Mbak Nina yang montok dan padat itu terlihat samar-samar dibalik jubah coklatnya yang tipis, naik turun dengan teratur. Jilbabnya yang tersingkap tak mampu menutupinya.

Walaupun dalam posisi telentang, tapi buah dada Mbak Nina terlihat mencuat keatas dengan putingnya yang kecil nampak jelas. Melihat pemandangan yang menggairahkan itu saya benar-benar terangsang hebat. Dengan cepat kemaluan saya langsung bereaksi menjadi keras dan berdiri dengan gagahnya, siap tempur. Perlahan-lahan saya berjongkok di samping tempat tidur dan tangan saya secara hati-hati menarik jubah mbak Nina semakin keatas, sehingga CDnya semakin jelas terlihat. Kemudian tangan saya saya letakkan dengan lembut pada belahan kemaluan Mbak Nina yang mungil itu yang masih ditutupi dengan CD. Perlahan-lahan tangan saya mulai mengelus-elus kemaluan wanita alim yang montok itu dan juga bagian paha atasnya yang benar-benar licin putih mulus dan sangat merangsang.

Terlihat Mbak Nina agak bergeliat dan mulutnya agak tersenyum, mungkin wanita berjilbab ini mimpi, sedang becinta dengan paman. Saya melakukan kegiatan saya dengan hati-hati takut Mbak Nina terbangun. Perlahan-lahan saya lihat bagian CD Mbak Nina yang menutupi kemaluannya mulai terlihat basah, rupanya Mbak Nina sudah mulai terangsang juga. Dari mulutnya terdengar suara mendesis perlahan dan badannya menggeliat-geliat perlahan-lahan. Saya makin tersangsang melihat pemandangan itu.

Cepat-cepat saya buka semua baju dan CD saya, sehingga sekarang saya bertelanjang bulat. Penis saya yang 18 cm itu telah berdiri kencang menganguk-angguk mencari mangsa. Dan saya membelai-belai buah dadanya, dia masih tetap tertidur saja. Saya tahu bahwa puting dan klitoris Mbak Nina tempat paling suka dicumbui, karena saya sering mengintip saat paman dan mbak Nina ngeseks. Lalu tangan saya yang satu mulai bergerilya di daerah vaginanya. Kemudian perlahan-lahan saya menggunting CD mini Mbak Nina dengan gunting yang terdapat di sisi tempat tidur wanita alim yang montok ini.

Sekarang kemaluan Mbak Nina terpampang dengan jelas tanpa ada penutup lagi. Perlahan-lahan kedua kaki Mbak Nina saya tarik melebar, sehingga kedua pahanya yang montok dan putih terpentang. Dengan hati-hati saya naik ke atas tempat tidur dan berjongkok di atas Mbak Nina. Kedua lutut saya melebar di samping pinggul Mbak Nina dan saya atur sedemikian rupa supaya tidak menyentuh pinggul Mbak Nina. Tangan kanan saya menekan pada kasur tempat tidur, tepat di samping tangan Mbak Nina, sehingga sekarang saya berada dalam posisi setengah merangkak di atas wanita berjilbab montok ini.

Tangan kiri saya memegang batang penis saya. Perlahan-lahan kepala penis saya saya letakkan pada belahan bibir kemaluan Mbak Nina yang telah basah itu. Kepala penis saya yang besar itu saya gosok-gosok dengan hati-hati pada bibir kemaluan Mbak Nina. Terdengar suara erangan perlahan dari mulut Mbak Nina dan badannya agak menggeliat, tapi matanya tetap tertutup. Akhirnya saya tekan perlahan-lahan kepala kemaluan saya membelah Bibir kemaluan Mbak Nina.

Sekarang kepala kemaluan saya terjepit di antara tibir kemaluan Mbak Nina. Dari mulut Mbak Nina tetap terdengar suara mendesis perlahan, akan tetapi badannya kelihatan mulai gelisah. Saya tidak mau mengambil resiko, sebelum Mbak Nina sadar, saya sudah harus menaklukan kemaluan Mbak Nina dengan menempatkan posisi penis saya di dalam lubang vagina wanita berjilbab yang menggairahkan ini. Sebab itu segera saya pastikan letak penis saya agar tegak lurus pada kemaluan Mbak Nina. Dengan bantuan tangan kiri saya yang terus membimbing penis saya, saya tekan perlahan-lahan tapi pasti pinggul saya kebawah, sehingga kepala penis saya mulai menerobos kedalam lubang kemaluan Mbak Nina.

Kelihatan sejenak kedua paha Mbak Nina bergerak melebar, seakan-akan menampung desakan penis saya kedalam lubang kemaluan saya. Badannya tiba-tiba bergetar menggeliat dan kedua matanya mendadak terbuka, terbelalak bingung, memandang saya yang sedang bertumpu diatasnya. Mulutnya terbuka seakan-akan siap untuk berteriak. Dengan cepat tangan kiri saya yang sedang memegang penis saya saya lepaskan dan buru-buru saya dekap mulut Mbak Nina agar jangan berteriak. Karena gerakan saya yang tiba-tiba itu, posisi berat badan saya tidak dapat saya jaga lagi, akibatnya seluruh berat pantat saya langsung menekan ke bawah, sehingga tidak dapat dicegah lagi penis saya menerobos masuk ke dalam lubang kemaluan Mbak Nina dengan cepat.

Badan wanita berjilbab itu tersentak keatas dan kedua pahanya mencoba untuk dirapatkan, sedangkan kedua tangannya otomatis mendorong ke atas, menolak dada saya. Dari mulutnya keluar suara jeritan, tapi tertahan oleh bekapan tangan kiri saya.

"Aauuhhmm.. aauuhhmm.. hhmm..!" desahnya tidak jelas.

Kemudian badannya mengeliat-geliat dengan hebat, kelihatan Mbak Nina sangat kaget dan mungkin juga kesakitan akibat penis saya yang besar menerobos masuk kedalam kemaluannya dengan tiba-tiba.

Meskipun Mbak Nina meronta-ronta, akan tetapi bagian pinggulnya tidak dapat bergeser karena tertekan oleh pinggul saya dengan rapat. Karena gerakan-gerakan Mbak Nina dengan kedua kaki Mbak Nina yang meronta-ronta itu, penis saya yang telah terbenam di dalam vagina Mbak Nina terasa dipelintir-pelintir dan seakan-akan dipijit-pijit oleh otot-otot dalam vagina wanita alim yang montok ini. Hal ini menimbulkan kenikmatan yang susah dilukiskan.

Karena sudah kepalang tanggung, maka tangan kanan saya yang tadinya bertumpu pada tempat tidur saya lepaskan. Sekarang seluruh badan saya menekan dengan rapat ke atas badan Mbak Nina, kepala saya saya letakkan di samping kepala Mbak Nina sambil berbisik ke telinga Mbak Nina.

"Mbaak.., mbaak.., ini aku Fery. Tenang mbaak.., sshhtt.., shhtt..!" bisik saya.

Tante saya yang alim namun montok ini masih mencoba melepaskan diri, tapi tidak kuasa karena badannya yang mungil itu teperangkap dibawah tubuh saya. Sambil tetap mendekap mulut Mbak Nina, saya menjilat-jilat telinga Mbak Nina dari luar jilbab kausnya dan pinggul saya secara perlahan-lahan mulai saya gerakkan naik turun dengan teratur.

Perlahan-lahan badan Mbak Nina yang tadinya tegang mulai melemah. Saya bisikkan lagi ke telinga Mbak Nina,

"Mbaak.., tanganku akan kulepaskan dari mulut Mbak Nina, asal Mbak Nina janji jangan berteriak yaa..?"

Perlahan-lahan tangan saya saya lepaskan dari mulut Mbak Nina. Kemudian Mbak Nina berkata,

"Fer.., apa yang kau perbuat ini..? Kamu telah memperkosa Mbak Nina..!"

Saya diam saja, tidak menjawab apa-apa, hanya gerakan pinggul saya makin saya percepat dan tangan saya mulai memijit-mijit buah dada Mbak Nina yang masih tertutup jubah tipis, terutama pada bagian putingnya yang sudah sangat mengeras. Jilbabnya yang tersibak semakin membuat wajahnya nampak semakin menggairahkan.

Rupanya meskipun wajah Mbak Nina masih menunjukkan perasaan marah, akan tetapi reaksi badannya tidak dapat menyembunyikan perasaannya yang sudah mulai terangsang itu. Melihat keadaan Mbak Nina ini, saya tingkatkan tempo permainan saya. Akhirnya dari mulut wanita alim berjilbab itu terdengar suara,

"Oohh.., oohh.., sshh.., sshh.., eemm.., eemm.., Feerrr...!"

Dengan masih melanjutkan gerakan pinggul saya, perlahan-lahan kedua tangan saya bertumpu pada tempat tidur, sehingga saya sekarang dalam posisi setengah bangun, seperti orang yang sedang melakukan push-up. Dibawah saya terlihat seorang wanita yang alim dan berjilbab, sudah tersingkap jilbabnya dan semakin bergairah saya sodok-sodok dengan penis besar saya.

Dalam posisi ini, penis saya menghujam kemaluan Mbak Nina dengan bebas, melakukan serangan-serangan langsung kedalam lubang kemaluan Mbak Nina. Kepala saya tepat berada diatas kepala Mbak Nina yang tergolek diatas kasur. Kedua mata saya menatap kebawah kedalam mata Mbak Nina yang sedang meram melek dengan sayu. Dari mulutnya tetap terdengar suara mendesis-desis. Selang sejenak setelah merasa pasti bahwa Mbak Nina telah dapat saya taklukan, saya berhenti dengan kegiatan saya. Setelah mencabut penis saya dari dalam kemaluan Mbak Nina, saya berbaring setengah tidur di samping Mbak Nina. Sebelah tangan saya mengelus-elus buah dada Mbak Nina terutama pada bagian putingnya, dari balik jubahnya.

"Eehh.., Fer.., kenapa kamu lakukan ini kepada tantemu..!" katanya.

Sebelum menjawab saya menarik badan Mbak Nina menghadap saya dan memeluk badan montoknya dengan hati-hati, tapi lengket ketat ke badan. Bibir saya mencari bibirnya, dan dengan gemas saya lumat habis. Woowww… Sekarang wanita alim itu menyambut ciuman saya dan lidahnya ikut aktif menyambut lidah saya yang menari-nari di mulutnya.

Selang sejenak saya hentikan ciuman saya itu. Sambil memandang langsung ke dalam kedua matanya dengan mesra, saya berkata,

"Mbaak.. sebenarnya aku sangat sayang sekali sama Mbak Nina, Mbak Nina sangat cantik lagi ayu..!" Sambil berkata itu saya cium lagi Bibirnya selintas dan melanjutkan perkataan saya,

"Setiaap kali melihat Mbak Nina bermesraan dengan Paman, aku kok merasa sangat cemburu, seakan-akan Mbak Nina adalah milikku, jadi Mbak Nina jangan marah yaa kepadaku, ini kulakukan karena tidak bisa menahan diri ingin memiliki Mbak Nina seutuhnya." Selesai berkata itu saya menciumnya dengan mesra dan dengan tidak tergesa-gesa.

Ciuman saya kali ini sangat panjang, seakan-akan ingin menghirup napasnya dan belahan jiwanya masuk kedalam diri saya. Ini saya lakukan agar ia semakin pasrah saya ajak ngeseks, karena sudah berhasil dengan beberapa orang cewek lainnya. Rupanya Mbak Nina akhirnya takluk, sehingga pelukan dan ciuman saya itu dibalasnya dengan tidak kalah mesra juga.

Beberapa lama kemudian saya menghentikan ciuman saya dan saya pun berbaring telentang di samping Mbak Nina, sehingga Mbak Nina dapat melihat keseluruhan badan saya yang telanjang itu.

"Iih… gede banget barang kamu Ferr..! Itu sebabnya tadi Mbak Nina merasa sangat penuh dalam badan Mbak Nina." Katanya.

Mungkin punya saya lebih besar dari punya paman. Lalu saya mulai memeluknya kembali dan mulai menciumnya. Ciuman saya mulai dari mulutnya turun ke pangkal lehernya yang tidak tertutup jilbab, sembari perlahan saya buka kancing jubahnya sampai perut. Woooooow!!! Saya tidak percaya dengan apa yang saya lihat. Sepasang buah dada yang putih dan sangat montok. Putingnya yang merah sudah mengeras. Segera mulut saya melumat-lumat dan menghisap-hisap kedua buah dadanya, terutama pada kedua ujung putingnya berganti-ganti, kiri dan kanan.

Sementara aksi saya sedang berlangsung, badan tante saya yang selalu berjilbab dan berjubah lebar ini menggeliat-geliat kenikmatan. Dari mulutnya terdengar suara mendesis-desis tidak hentinya. Aksi saya saya teruskan ke bawah, turun ke perutnya yang ramping, datar dan mulus. Maklum, Mbak Nina belum pernah melahirkan. Bermain-main sebentar disana kemudian turun makin kebawah, menuju sasaran utama yang terletak pada lembah di antara kedua paha yang putih mulus itu.

Pada bagian kemaluan Mbak Nina, mulut saya dengan cepat menempel ketat pada kedua bibir kemaluannya dan lidah saya bermain-main di lubang vaginanya. Mencari-cari dan akhirnya menyapu serta menjilat gundukan daging kecil pada bagian atas lubang kemaluannya. Segera terasa badan wanita montok berjilbab itu bergetar dengan hebat dan kedua tangannya mencengkeram kepada saya, menekan kebawah disertai kedua pahanya yang menegang dengan kuat. Lenguhan panjang keluar dari mulutnya,

"Oohh.., Feerr.., oohh.. enaakk.. Ferr..!"

Sambil masih terus dengan kegiatan saya itu, perlahan-lahan saya tempatkan posisi badan sehingga bagian pinggul saya berada sejajar dengan kepala Mbak Nina dan dengan setengah berjongkok. Posisi batang kemaluan saya persis berada di depan kepala Mbak Nina. Rupanya Mbak Nina maklum akan keinginan saya itu, karena terasa batang kemaluan saya dipegang oleh tangan Mbak Nina dan ditarik ke bawah. Kini terasa kepala penis saya menerobos masuk diantara daging empuk yang hangat. Ketika ujung lidah Mbak Nina mulai bermain-main di seputar kepala penis saya, suatu perasaan nikmat tiba-tiba menjalar dari bawah terus naik ke seluruh badan saya, sehingga dengan tidak terasa keluar erangan kenikmatan dari mulut saya. Membayangkan seorang wanita berjilbab mengulum, menyepong penis besar saya dengan penuh nafsu, saya semakin bernafsu.

Dengan posisi 69 ini kami terus bercumbu, saling hisap-mengisap, jilat-menjilat seakan-akan berlomba-lomba ingin memberikan kepuasan pada satu sama lain. Beberapa saat kemudian saya menghentikan kegiatan saya dan berbaring telentang di samping Mbak Nina. Kemudian sambil telentang saya menarik Mbak Nina ke atas saya, sehingga sekarang wanita berjilbab itu tidur tertelungkup pasrah di atas saya. Badan Mbak Nina dengan pelan saya dorong agak kebawah dan kembali saya sibakkan keatas jubahnya. Kedua paha Mbak Nina saya pentangkan. Kedua lutut saya dan pantat saya agak saya naikkan ke atas, sehingga dengan terasa penis saya yang panjang dan masih sangat tegang itu langsung terjepit diantara kedua Bibir kemaluan Mbak Nina.

Dengan suatu tekanan oleh tangan saya pada pantat Mbak Nina yang tak kalah montok dengan buah dadanya, dan sentakkan keatas pantat saya, maka penis saya langsung menerobos masuk kedalam lubang kemaluan Mbak Nina. Amblas semua batang saya. "Aaaauuugghh..!" terdengar keluhan panjang kenikmatan yang terdengar jalang keluar dari mulut wanita alim yang montok itu. Saya segera menggoyang pinggul saya dengan cepat karena kelihatan bahwa Mbak Nina sudah mau klimaks. Mbak Nina tambah semangat juga ikut mengimbangi dengan menggoyang pantatnya dan menggeliat-geliat di atas saya. Saya lihat wajahnya yang cantik dibalut jilbab yang memberikan sensasi sendiri untuk saya. matanya setengah terpejam, sedang kedua buah dadanya yang montok sekali itu bergoyang-goyang liar diatas saya.

Ketika saya lihat pada cermin besar di lemari, kelihatan pinggul Mbak Nina yang sedang berayun-ayun di atas saya. Batang penis saya yang besar sebentar terlihat sebentar hilang ketika tante saya yang berjilbab itu bergerak naik turun diatas saya. Hal ini membuat saya jadi makin terangsang. Tiba-tiba sesuatu mendesak dari dalam penis saya mencari jalan keluar, hal ini menimbulkan suatu perasaan nikmat pada seluruh badan saya. Kemudian air mani saya tanpa dapat ditahan menyemprot dengan keras ke dalam lubang vagina Mbak Nina, yang pada saat bersamaan pula terasa berdenyut-denyut dengan kencangnya disertai badannya yang berada di atas saya bergetar dengan hebat dan terlonjak-lonjak. Kedua tangannya mendekap badan saya dengan keras.

Pada saat bersamaan kami berdua mengalami orgasme dengan dasyat. Akhirnya Mbak Nina tertelungkup di atas badan saya dengan lemas sambil dari mulut Mbak Nina terlihat senyuman puas.

"Fer.., terima kasih Fer. Kamu telah memberikan Mbak Nina kepuasan sejati..!"

Setelah beristirahat, kemudian kami bersama-sama ke kamar mandi dan saling membersihkan diri satu sama lain. Sementara mandi, kami berpelukan dan berciuman disertai kedua tangan kami yang saling mengelus-elus dan memijit-mijit satu sama lain, sehingga dengan cepat nafsu kami bangkit lagi. Dengan setengah membopong badan Mbak Nina yang mungil itu dan kedua tangan Mbak Nina menggelantung pada leher saya, kedua kaki Mbak Nina saya angkat ke atas melingkar pada pinggang saya dan dengan menempatkan satu tangan pada pantat Mbak Nina dan menekan, penis saya yang sudah tegang lagi menerobos kedalam lubang kemaluan Mbak Nina.

"Aaughh.. oohh.. oohh..!" terdengar rintihan liar wanita yang biasanya alim itu, sementara saya menggerakan-gerakan pantat saya maju-mundur sambil menekan ke atas.

Dalam posisi ini, dimana berat badan Mbak Nina sepenuhnya tertumpu pada kemaluannya yang sedang terganjal oleh penis saya, maka dengan cepat Mbak Nina mencapai klimaks.

"Aaduhh.. Fer.. Mbaak…Ninaaa.. maa.. maa.. uu.. keluuar.. Fer..!" dengan lenguhan panjang disertai badannya yang mengejang, Mbak Nina mencapai orgasme, dan selang sejenak terkulai lemas dalam gendongan saya.

Dengan penis saya masih berada di dalam lubang kemaluan Mbak Nina, saya terus membopongnya. Saya membawa Mbak Nina ke tempat tidur. Dalam keadaan tubuh yang masih basah saya genjot Mbak Nina yang telah lemas dengan sangat bernafsu, sampai saya orgasme sambil menekan kuat-kuat pantat saya. Saya peluk badan Mbak Nina erat-erat sambil merasakan air mani saya menyemprot-nyemprot, tumpah dengan deras kedalam lubang kemaluan Mbak Nina, mengisi segenap relung-relung di dalamnya.

Semalaman itu kami masih melakukan persetubuhan beberapa kali, dan baru berhenti kecapaian menjelang fajar. Sejak saat itu, selanjutnya seminggu minimal 4 kali kami secara sembunyi-sembunyi bersetubuh, dan tante saya yang berjilbab itu selalu ketagihan penis besar saya.



Cerita Dewasa Sex Perawan, Cerita Dewasa Sex SMA, Cerita Dewasa Sex Gangbang, Cerita Dewasa Sex SPG, Cerita Dewasa Sex ABG,Cerita Dewasa Sex Model, Cerita Dewasa Sex Suster, Cerita Dewasa Sex Mahasiswa, Cerita Dewasa Sex Mahasiswi, Cerita Dewasa Sex Threesome, Cerita Dewasa Sex Pembantu, Cerita Dewasa Sex Tante Girang, Cerita Dewasa Sex Salon++, Cerita Dewasa Sex Lesbi, Cerita Dewasa Sex Gay, Foto Hot ABG Terbaru, Foto Hot Model Terbaru, Foto Hot Mahasiswi Terbaru, Foto Hot Tante Terbaru, Cerita Sex Terbaru 2017, Cerita Mesum terbaru 2017, Cerita Dewasa Terbaru 2017, Dan Lain-lain.